Berita Travel
Home / Berita Travel / De Djawatan Banyuwangi, Hutan Trembesi Paling Instagramable

De Djawatan Banyuwangi, Hutan Trembesi Paling Instagramable

De Djawatan Banyuwangi
De Djawatan Banyuwangi

De Djawatan Banyuwangi belakangan menjelma menjadi salah satu ikon wisata alam yang paling banyak dibicarakan di Jawa Timur. Deretan pohon trembesi tua dengan batang raksasa dan tajuk yang menjulang membentuk lorong hijau yang dramatis, membuat tempat ini tampak seperti latar film fantasi. Bukan hanya wisatawan lokal, pengunjung dari berbagai daerah rela menempuh perjalanan jauh demi merasakan atmosfer magis di kawasan yang dahulu hanya dikenal sebagai hutan lindung ini.

Sebagai kawasan yang masih aktif dimanfaatkan Perhutani, De Djawatan Banyuwangi menawarkan kombinasi unik antara fungsi konservasi, rekreasi, dan ruang publik. Di satu sisi, pengunjung dimanjakan dengan spot foto instagramable, di sisi lain ada upaya nyata menjaga kelestarian hutan trembesi yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Di tengah gempuran wisata buatan, kehadiran ruang hijau seperti ini menjadi oase yang langka.

> “De Djawatan Banyuwangi bukan sekadar latar foto cantik, tetapi ruang di mana orang kembali diajak akrab dengan hutan, tanah, dan cahaya matahari yang menembus rimbun pepohonan.”

Pesona Hutan Trembesi Tua yang Seperti Dunia Fantasi

Suasana pertama yang menyambut pengunjung ketika memasuki De Djawatan Banyuwangi adalah pemandangan pohon pohon trembesi dengan ukuran yang tidak biasa. Batang besar, akar yang menjulur, serta dahan yang melengkung ke segala arah menciptakan siluet yang kontras dengan langit. Di banyak sudut, pepohonan ini diselimuti lumut dan tanaman epifit sehingga menambah kesan tua dan mistis.

Pohon trembesi di kawasan ini diperkirakan sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Ukuran batangnya yang masif dan tajuknya yang lebar menjadikan area di bawahnya teduh sepanjang hari. Sinar matahari yang menembus sela sela daun menciptakan efek cahaya yang dramatis, terutama pada pagi dan sore hari. Inilah salah satu alasan mengapa banyak fotografer menjadikan De Djawatan sebagai lokasi pemotretan, mulai dari prewedding, foto keluarga, hingga konten media sosial.

Pantai Timang Gunungkidul, Sensasi Gondola Ekstrem di Atas Laut

Di beberapa titik, pengelola membiarkan area tetap alami tanpa banyak intervensi. Daun kering dibiarkan menutupi tanah, akar akar besar dibiarkan terbuka, menciptakan tekstur alami yang kuat. Pengunjung dapat berjalan di antara pohon, merasakan langsung skala besar pepohonan, serta menikmati suara burung dan hewan kecil yang beraktivitas di balik rimbunnya tajuk trembesi.

Lokasi, Rute, dan Akses Menuju De Djawatan Banyuwangi

Sebelum merencanakan kunjungan, memahami lokasi dan akses menuju De Djawatan Banyuwangi menjadi hal penting. Kawasan ini berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, sekitar 30 menit hingga 45 menit perjalanan dari pusat kota Banyuwangi, tergantung kondisi lalu lintas. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari jalan utama membuatnya relatif mudah dijangkau.

Dari pusat kota Banyuwangi, pengunjung dapat mengambil rute ke arah selatan menuju Kecamatan Rogojampi lalu meneruskan perjalanan ke arah Cluring dan Benculuk. Di sepanjang jalan sudah terdapat beberapa papan petunjuk yang mengarahkan ke kawasan De Djawatan. Jalan menuju lokasi umumnya sudah beraspal dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, termasuk bus pariwisata.

Bagi yang datang dari luar kota menggunakan kereta api, stasiun yang paling dekat adalah Stasiun Rogojampi dan Stasiun Banyuwangi Kota. Dari stasiun, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan ojek, taksi online, atau menyewa kendaraan. Sementara itu, dari Bandara Banyuwangi, perjalanan menuju De Djawatan juga berkisar 45 menit hingga satu jam, menjadikannya destinasi yang cukup mudah dijangkau bahkan untuk kunjungan singkat.

Sejarah Singkat Kawasan De Djawatan sebagai Hutan Lindung

Sebelum dikenal luas sebagai De Djawatan Banyuwangi, kawasan ini lebih dulu berfungsi sebagai areal kerja Perhutani. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai hutan Djawatan atau Djawatan Benculuk. Nama Djawatan sendiri merujuk pada istilah zaman dahulu untuk jawatan kehutanan, lembaga pengelola hutan sebelum istilah Perhutani digunakan secara luas.

Dusun Bambu Lembang Tiket Masuk Harga, Wahana & Tips Hemat 2026

Pada mulanya, kawasan ini bukan destinasi wisata. Trembesi trembesi besar ditanam untuk mendukung fungsi lindung, peneduh, sekaligus penyangga lingkungan di sekitar wilayah pengelolaan kayu. Seiring berjalannya waktu, karakter visual pohon pohon trembesi yang unik mulai menarik perhatian masyarakat. Foto foto yang beredar di media sosial menjadi pemicu meningkatnya kunjungan secara organik.

Melihat potensi tersebut, pengelola kemudian mulai melakukan penataan ringan tanpa mengubah karakter utama hutan. Jalur jalan kaki, area parkir, dan beberapa fasilitas pendukung mulai dibangun. Namun, esensi kawasan sebagai hutan lindung tetap dipertahankan. Inilah yang membedakan De Djawatan dengan banyak ruang hijau buatan lain di berbagai daerah.

> “Yang membuat De Djawatan Banyuwangi istimewa adalah keseimbangan antara fungsi wisata dan kehutanan; pengunjung diajak menikmati, tapi juga menghormati hutan.”

Spot Foto dan Sudut Paling Fotogenik di De Djawatan Banyuwangi

Popularitas De Djawatan Banyuwangi di media sosial tidak lepas dari banyaknya spot foto yang tampak spektakuler di kamera. Hampir setiap sudut hutan tampak fotogenik, tetapi ada beberapa area yang menjadi favorit pengunjung karena komposisi visualnya yang lebih dramatis.

Salah satu spot yang paling banyak diburu adalah deretan trembesi yang membentuk semacam lorong alami. Di sini, pepohonan tumbuh berjejer dengan jarak yang relatif teratur, menciptakan garis perspektif yang kuat ketika difoto dari titik tertentu. Pada jam jam tertentu, sinar matahari yang menembus dedaunan menghasilkan efek backlight yang membuat foto tampak lebih hidup.

OCEAN DREAM SAMUDRA tiket masuk & jadwal show terbaru 2026

Ada juga area terbuka di tengah hutan di mana cahaya matahari jatuh lebih banyak, sangat cocok untuk foto grup atau foto keluarga. Di beberapa bagian, pengelola menambahkan elemen sederhana seperti bangku kayu, gardu pandang rendah, atau ayunan yang menyatu dengan suasana alami. Unsur unsur ini tidak terlalu mendominasi, sehingga foto tetap didominasi oleh latar pohon trembesi yang megah.

Bagi penggemar fotografi, waktu terbaik untuk mengabadikan De Djawatan adalah pagi hari antara pukul 07.00 hingga 09.00 dan sore hari sekitar pukul 15.30 hingga menjelang tutup. Pada jam jam ini, cahaya lebih lembut dan sudut matahari menciptakan bayangan panjang yang memperkuat dimensi batang dan akar pohon.

Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di De Djawatan Banyuwangi

Kunjungan ke De Djawatan Banyuwangi tidak hanya soal berfoto. Ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu di kawasan hutan trembesi ini, baik bagi pengunjung individu, pasangan, maupun rombongan keluarga dan komunitas.

Banyak pengunjung memilih berjalan santai menyusuri jalur jalur di bawah pepohonan sambil menikmati udara segar. Suasana yang relatif tenang membuat kegiatan seperti membaca buku, duduk bersantai, atau sekadar mengamati lingkungan sekitar menjadi menyenangkan. Bagi yang datang bersama anak anak, area terbuka yang teduh bisa menjadi tempat bermain yang aman dengan pengawasan orang dewasa.

Aktivitas lain yang cukup populer adalah piknik ringan. Beberapa pengunjung membawa alas duduk dan bekal sederhana untuk dinikmati di sudut sudut yang diizinkan. Namun, penting untuk selalu mematuhi aturan kebersihan dan tidak meninggalkan sampah. Di sisi lain, komunitas fotografi dan videografi kerap menjadikan De Djawatan sebagai lokasi hunting bersama, baik untuk memotret lanskap, potret, maupun konsep tematik.

Beberapa operator lokal juga sesekali menyediakan paket tur singkat yang menggabungkan kunjungan ke De Djawatan dengan destinasi lain di Banyuwangi. Dengan demikian, pengunjung yang datang dari luar daerah bisa mengoptimalkan waktu dengan mengunjungi beberapa lokasi dalam satu hari perjalanan.

Fasilitas Umum dan Kenyamanan Pengunjung

Sebagai destinasi yang terus berkembang, fasilitas di De Djawatan Banyuwangi secara bertahap ditingkatkan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Area parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat telah disediakan di dekat pintu masuk, sehingga pengunjung tidak perlu berjalan terlalu jauh sebelum memasuki kawasan hutan.

Di sekitar area utama terdapat fasilitas dasar seperti toilet dan mushola. Keberadaan fasilitas ini sangat penting mengingat banyak pengunjung datang bersama keluarga dan menghabiskan waktu cukup lama di lokasi. Sejumlah warung dan kios sederhana juga hadir, menjual makanan dan minuman ringan serta beberapa suvenir khas lokal.

Bangku bangku kayu dan area duduk ditempatkan di beberapa titik strategis, memungkinkan pengunjung beristirahat tanpa harus menggelar alas di tanah. Meski demikian, pengelola tetap berusaha menjaga agar elemen buatan tidak berlebihan, sehingga karakter alami hutan trembesi tetap menjadi daya tarik utama.

Papan informasi dan sejumlah rambu peringatan turut dipasang untuk mengingatkan pengunjung agar menjaga kebersihan, tidak merusak pohon, dan menghormati aturan yang berlaku. Upaya ini penting agar kenyamanan tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga tetap terjaga untuk pengunjung di masa mendatang.

Waktu Terbaik Berkunjung dan Kondisi Cuaca

Memilih waktu yang tepat untuk berkunjung ke De Djawatan Banyuwangi dapat sangat memengaruhi pengalaman yang dirasakan. Secara umum, kawasan ini dapat dikunjungi sepanjang tahun, tetapi musim kemarau cenderung menjadi periode yang paling nyaman. Pada musim ini, jalur jalan lebih kering dan risiko licin berkurang, sehingga pengunjung bisa lebih leluasa bergerak dan berfoto.

Pagi hari adalah waktu favorit banyak pengunjung karena udara masih sejuk dan sinar matahari belum terlalu terik. Suasana hutan terasa lebih segar, dan kabut tipis terkadang masih terlihat di sela pepohonan, memberikan nuansa yang lebih dramatis. Sementara itu, sore hari juga menjadi pilihan menarik karena cahaya matahari yang condong menciptakan efek visual yang indah.

Pada musim hujan, kunjungan tetap dimungkinkan, tetapi pengunjung perlu lebih berhati hati. Tanah bisa menjadi becek dan licin, terutama di area yang tidak berlapis paving. Membawa payung atau jas hujan serta alas kaki yang tidak mudah tergelincir menjadi langkah antisipasi yang bijak. Meskipun demikian, warna hijau pepohonan justru tampak lebih pekat dan segar pada periode ini, memberikan nuansa berbeda dibanding musim kemarau.

Etika Berkunjung dan Upaya Menjaga Kelestarian

Dengan semakin populernya De Djawatan Banyuwangi, tantangan terbesar yang muncul adalah menjaga agar kawasan ini tidak rusak oleh aktivitas pengunjung. Etika berkunjung menjadi kunci agar keindahan hutan trembesi tetap dapat dinikmati dalam jangka panjang.

Pengunjung diharapkan tidak memanjat atau merusak batang dan akar pohon, tidak memaku atau menggantungkan benda benda pada dahan, serta tidak mengukir nama di kulit pohon. Sampah harus dibuang di tempat yang telah disediakan atau dibawa kembali jika tempat sampah penuh atau jauh dari jangkauan. Hal sederhana seperti ini memiliki dampak besar terhadap kelestarian lingkungan.

Selain itu, penting untuk menjaga ketenangan. Meski De Djawatan adalah kawasan wisata, pada dasarnya ini adalah ekosistem hidup bagi berbagai flora dan fauna. Mengurangi kebisingan berlebihan, tidak mengganggu satwa, serta menghormati pengunjung lain adalah bentuk penghargaan terhadap ruang publik bersama.

Pengelola bersama komunitas lokal juga berperan dalam menjaga kawasan. Kegiatan bersih bersih, penanaman pohon, dan edukasi lingkungan sesekali dilakukan untuk mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar latar foto, melainkan sistem yang harus dirawat. Partisipasi pengunjung, sekecil apapun, akan sangat membantu keberlanjutan kawasan ini.

De Djawatan Banyuwangi dalam Lanskap Wisata Alam Jawa Timur

Di tengah maraknya destinasi buatan yang mengandalkan wahana ekstrem atau dekorasi artifisial, kehadiran De Djawatan Banyuwangi memberikan alternatif yang berbeda. Daya tarik utamanya justru terletak pada keaslian lanskap dan kekuatan visual alami pohon trembesi yang berusia tua. Hal ini menjadikan De Djawatan sebagai salah satu referensi penting ketika membahas wisata alam di Jawa Timur.

Banyuwangi sendiri dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai daerah yang agresif mengembangkan potensi wisatanya, mulai dari pantai, gunung, hingga budaya lokal. De Djawatan Banyuwangi memperkaya portofolio tersebut dengan karakter hutan yang fotogenik dan mudah diakses. Kombinasi ini memungkinkan pengunjung menyusun itinerari yang beragam dalam satu kali kunjungan ke Banyuwangi.

Bagi banyak orang, De Djawatan menjadi pengingat bahwa pesona alam tidak selalu harus ekstrem atau jauh di pelosok. Hutan yang dikelola dengan baik, dibuka secara bijak untuk publik, dan dirawat bersama mampu menjadi ruang pertemuan antara manusia dan alam yang menyehatkan, baik untuk tubuh maupun pikiran.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *