Wisata Petik Melon Premium Kebumen, Pilih Buah Langsung di Greenhouse Kebumen kini memiliki pilihan wisata pertanian yang menawarkan pengalaman lebih dekat dengan proses produksi buah. Pengunjung tidak sekadar membeli melon yang telah ditata di toko, tetapi dapat memasuki greenhouse, melihat buah yang masih menggantung, memilih melon yang telah matang, lalu memetiknya dengan arahan petugas.
Salah satu lokasi yang sedang mendapat perhatian berada di Desa Gemeksekti, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Kebun tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa Gemilang Sakti melalui konsep Open Farm. Program ini menggabungkan budidaya melon premium, penjualan langsung, edukasi pertanian, serta kegiatan kunjungan masyarakat.
Masyarakat kerap menyebut kegiatan tersebut sebagai memanen melon langsung dari pohon. Secara botani, melon sebenarnya tumbuh pada tanaman merambat. Buahnya dibiarkan menggantung pada batang yang diarahkan ke atas menggunakan tali penyangga di dalam greenhouse.
Wisatawan dapat melihat bagaimana satu tanaman dirawat agar menghasilkan satu atau dua buah dengan kualitas terjaga. Pengalaman itu memberi gambaran bahwa melon premium tidak hanya dibedakan oleh nama varietas, tetapi juga oleh pemilihan buah, pengaturan cahaya, pengendalian pertumbuhan, serta waktu panen.
Open Farm Gemeksekti Langsung Disambut Warga
BUMDes Gemilang Sakti membuka kebun ketika buah memasuki usia panen. Pengunjung dapat datang untuk memilih melon, meminta bantuan petugas, kemudian membawa pulang buah berdasarkan bobot hasil penimbangan.
Pada pelaksanaan Open Farm terbaru, kebun dibuka selama tiga hari. Seluruh melon yang tersedia habis dibeli karena jumlah pengunjung dan pemesanan cukup tinggi. Pengelola sebelumnya telah melakukan promosi untuk memberi tahu masyarakat mengenai jadwal panen dan varietas yang tersedia.
Direktur BUMDes Gemilang Sakti, Subagyo, menjelaskan bahwa konsep wisata petik dipilih agar masyarakat dapat ikut menikmati hasil program ketahanan pangan desa. Penjualan tidak hanya dilakukan kepada pedagang atau mitra usaha, tetapi juga langsung kepada keluarga yang ingin merasakan kegiatan panen.
Kegiatan ini berbeda dari kunjungan ke kebun buah biasa yang dapat dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Melon memiliki siklus tanam dan waktu matang tertentu. Kebun baru dapat dibuka ketika jumlah buah siap panen mencukupi dan petugas telah menentukan buah yang boleh dipetik.
Menurut penulis, pembatasan jadwal justru menjadi bagian menarik dari wisata pertanian. Pengunjung datang mengikuti waktu tanaman, bukan meminta kebun selalu menyediakan buah tanpa melihat tahap pertumbuhannya.
Dua Greenhouse Menampung Sekitar Seribu Tanaman
Laporan panen Juli 2026 menyebut kegiatan budidaya dijalankan pada dua unit greenhouse. Masing masing bangunan menampung sekitar 500 tanaman sehingga jumlah keseluruhannya mencapai kurang lebih 1.000 batang melon.
Pengelola menanam tiga varietas, yakni Golden Aroma, Sweet Hami, dan Lavender. Sweet Hami dan Lavender telah dipanen pada periode pertama, sedangkan Golden Aroma menjadi produk utama pada panen kedua.
Setiap tanaman tidak dipaksa menghasilkan buah sebanyak mungkin. Sebagian dipertahankan dengan satu buah, sementara tanaman lain dapat membawa dua buah apabila kondisinya dinilai cukup kuat. Pengaturan tersebut dilakukan agar nutrisi tidak terbagi ke terlalu banyak buah dan hasil panen memiliki ukuran serta mutu yang baik.
Pada panen pertama, produksi dari kebun dilaporkan mencapai lebih dari 1,5 ton. Panen kedua dari satu greenhouse menghasilkan sekitar 1,3 ton Golden Aroma. Satu greenhouse lain dijadwalkan memasuki masa panen pada awal Agustus dengan varietas Lavender berwarna kuning.
Golden Aroma Menjadi Bintang Panen Kedua
Golden Aroma mudah dikenali dari warna kulitnya yang kuning ketika matang. Penampilan cerah tersebut membuat buah terlihat menarik saat masih menggantung di antara daun dan batang melon.
Varietas ini menjadi pusat perhatian pada panen kedua BUMDes Gemilang Sakti. Pengunjung dapat melihat langsung kondisi kulit, ukuran, tangkai, serta posisi buah sebelum menentukan pilihan.
Pemilihan tetap perlu didampingi petugas. Warna yang terlihat menarik belum tentu menjadi satu satunya penanda bahwa buah siap dipanen. Umur tanaman, keadaan tangkai, aroma, ukuran, dan catatan budidaya juga digunakan untuk menentukan waktu petik.
Petugas perlu mencegah pengunjung memotong buah yang masih membutuhkan waktu untuk matang. Sekali dipetik, tanaman tidak dapat mengembalikan buah ke tahap pertumbuhan sebelumnya. Pengunjung karena itu sebaiknya tidak memegang, menarik, atau memutar melon tanpa izin.
Sweet Hami dan Lavender Menambah Pilihan Rasa
Sweet Hami dan Lavender telah lebih dahulu dipanen oleh pengelola. Kehadiran beberapa varietas membuat BUMDes tidak hanya bergantung pada satu jenis melon.
Setiap varietas mempunyai tampilan, warna daging, aroma, dan tingkat kerenyahan yang dapat berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijadikan bahan edukasi bagi pengunjung yang sebelumnya hanya mengenal melon dari warna kulit luarnya.
Pengelola juga dapat mengatur jadwal tanam agar seluruh buah tidak matang pada waktu yang sama. Pola panen bertahap memberi kesempatan membuka kunjungan pada beberapa periode, meskipun durasinya tetap bergantung pada jumlah buah dan kecepatan penjualan.
Jadwal Lavender kuning yang disebut akan memasuki panen pada awal Agustus menjadi kesempatan berikutnya bagi masyarakat. Tanggal pasti kunjungan perlu dikonfirmasi kepada BUMDes atau Pemerintah Desa Gemeksekti karena waktu matang dapat menyesuaikan keadaan tanaman.
Harga Dipasang Rp30 Ribu per Kilogram
BUMDes Gemilang Sakti menjual melon premium dengan harga Rp30 ribu per kilogram pada pelaksanaan Open Farm yang dilaporkan Juli 2026. Pengelola menyebut harga tersebut sengaja dipasang agar masyarakat dapat menikmati melon premium dengan nilai yang lebih terjangkau.
Pembayaran dihitung setelah buah dipetik dan ditimbang. Total biaya setiap pengunjung dapat berbeda karena ukuran melon tidak selalu sama.
Sebelum memotong buah, wisatawan sebaiknya memperkirakan bobot dan menanyakan harga yang berlaku. Cara ini membantu keluarga menyesuaikan pembelian dengan anggaran, terutama ketika anak memilih lebih dari satu melon.
Harga Rp30 ribu per kilogram merupakan harga pada panen yang telah diberitakan. Nilainya dapat berubah pada periode berikutnya berdasarkan varietas, kualitas, biaya produksi, serta keputusan pengelola.
Wisatawan Belajar dari Proses Budidaya
Kunjungan ke greenhouse memberi kesempatan melihat pertanian dari jarak dekat. Tanaman disusun dalam barisan sehingga petugas dapat memeriksa daun, batang, bunga, buah, dan keadaan media tanam secara teratur.
Pengunjung dapat melihat tali yang menjaga tanaman tetap tumbuh ke atas. Buah juga memperoleh penyangga agar bobotnya tidak merusak batang ketika semakin besar.
Greenhouse membantu pengelola mengurangi gangguan hujan langsung dan mengatur lingkungan budidaya dengan lebih terkontrol. Namun, bangunan tersebut tidak membuat tanaman sepenuhnya bebas dari persoalan. Suhu, kelembapan, sinar matahari, hama, penyakit, air, dan nutrisi tetap harus dipantau.
Subagyo menyebut keadaan cuaca dan kecukupan sinar matahari membantu keberhasilan panen kedua. Tanaman melon memerlukan cahaya memadai agar buah berkembang secara baik.
Bagi anak sekolah, kegiatan ini dapat menjadi pengenalan terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Mereka dapat mengetahui bahwa produksi buah melibatkan perencanaan, teknologi, pencatatan, tenaga kerja, dan keputusan harian.
Program Dimulai dari Dana Ketahanan Pangan Desa
Budidaya melon premium di Gemeksekti disiapkan sejak awal 2026. Pemerintah desa mengalokasikan Dana Desa 2025 senilai Rp258 juta untuk sarana budidaya dan pendampingan. Nilai tersebut disebut setara dengan 20 persen alokasi Dana Desa yang diperuntukkan bagi ketahanan pangan.
Rencana awal mencakup tiga greenhouse yang dikelola oleh BUMDes. Pemerintah desa saat itu menyatakan sekitar 2.000 benih telah mulai ditanam dan pendampingan diberikan sejak tahap penanaman hingga panen.
Sebelum kegiatan budidaya berjalan, Desa Gemeksekti juga mengadakan pelatihan melon premium pada 14 Januari 2026. Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh BUMDes Gemilang Sakti sebagai bagian dari persiapan pengelolaan usaha.
Panen lebih dari satu ton kemudian menjadi ukuran awal bahwa tanaman berhasil menghasilkan produk dalam jumlah komersial. Tahap berikutnya berada pada kemampuan BUMDes menjaga mutu, mengatur jadwal tanam, merawat bangunan, serta memperoleh pasar yang stabil.
Open Farm Membuat Rantai Penjualan Lebih Pendek
Dalam pola perdagangan biasa, buah berpindah dari kebun menuju pengepul, distributor, pedagang, kemudian konsumen. Setiap perpindahan membutuhkan pengangkutan, penyimpanan, penyortiran, dan biaya.
Open Farm mempertemukan pembeli langsung dengan pengelola kebun. Buah dipilih ketika masih menggantung dan segera dibawa pulang setelah ditimbang.
Pola ini dapat mengurangi waktu antara panen dan konsumsi. BUMDes juga menerima tanggapan langsung mengenai rasa, ukuran, varietas yang disukai, serta harga yang dianggap sesuai.
Meski demikian, wisata petik tidak dapat menjadi satu satunya jalur penjualan. Jumlah pengunjung dapat berubah, sedangkan buah yang telah matang harus segera dipasarkan.
BUMDes karena itu mulai membangun kemitraan dengan sejumlah pihak. Pemerintah desa sebelumnya juga menyebut peluang memasok buah kepada dapur program Makan Bergizi Gratis yang berada di Gemeksekti, meski realisasi kerja samanya belum diumumkan dalam laporan panen terbaru.
Desa Gemeksekti Tidak Hanya Dikenal dari Melon
Gemeksekti sebelumnya telah dikenal sebagai salah satu kawasan kerajinan batik di Kebumen. BUMDes Gemilang Sakti pernah mengelola ruang bagi perajin untuk memasarkan batik tulis maupun batik cap buatan warga.
Kehadiran wisata melon dapat dipadukan dengan kegiatan desa lainnya. Pengunjung yang datang dari luar wilayah dapat diarahkan melihat produk batik, membeli makanan lokal, atau mengenal usaha rumah tangga warga.
Paket kunjungan terpadu belum diumumkan secara resmi oleh pengelola. Namun, letak kebun di Kecamatan Kebumen memberi peluang untuk menghubungkan kegiatan panen dengan perjalanan kuliner dan belanja produk lokal.
Pengembangan tersebut memerlukan pengaturan yang rapi agar kebun tetap menjadi tempat produksi. Jumlah pengunjung, jalur berjalan, kebersihan, tempat parkir, toilet, serta titik penimbangan perlu disesuaikan agar kegiatan wisata tidak mengganggu perawatan tanaman.
Menurut penulis, daya tarik terbesar kebun ini bukan hanya buah manis. Wisatawan dapat melihat bagaimana Dana Desa diolah menjadi kegiatan produksi yang hasilnya dapat dibeli dan diperiksa langsung oleh masyarakat.
Sidayu Menawarkan Pilihan Wisata Melon Lain
Kebumen juga memiliki Si Maksi Hydro Farm di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong. Kebun tersebut dikelola BUMDes Sida Makmur sebagai program ketahanan pangan berbasis budidaya melon hidroponik di dalam greenhouse.
Si Maksi Hydro Farm membudidayakan varietas Petravani dan Golden Aroma. Pemerintah Kecamatan Gombong menyebut masyarakat dapat membeli sekaligus memetik melon langsung dari kebun sebagai bagian dari kegiatan agrowisata dan pemberdayaan ekonomi desa.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani meninjau kebun tersebut pada 22 Mei 2026. Petravani ketika itu telah memasuki masa panen, sedangkan Golden Aroma dijadwalkan dipanen pada 2 Juni 2026.
Keberadaan kebun di Gemeksekti dan Sidayu memperlihatkan bahwa wisata petik melon mulai berkembang di lebih dari satu wilayah Kebumen. Keduanya dikelola BUMDes, tetapi mempunyai jadwal, varietas, harga, serta aturan kunjungan masing masing.
Cara Memetik Melon Tanpa Merusak Tanaman
Wisatawan tidak disarankan langsung menarik buah dengan tangan. Batang melon dapat terluka apabila buah diputar atau ditarik terlalu kuat.
Petugas biasanya membantu menunjukkan bagian tangkai yang perlu dipotong. Gunting harus bersih dan digunakan dengan posisi yang tidak mengenai batang utama, daun, atau buah lain.
Melon perlu ditahan menggunakan satu tangan sebelum tangkainya dipotong. Cara tersebut mencegah buah jatuh ke lantai greenhouse dan mengalami memar.
Anak dapat ikut memegang atau membawa melon, tetapi pemotongan sebaiknya tetap berada dalam pengawasan orang dewasa dan petugas. Peralatan tajam tidak boleh digunakan sebagai mainan.
Pengunjung juga perlu berjalan di jalur yang disediakan. Menginjak selang, media tanam, akar, atau bagian tanaman dapat mengganggu produksi buah yang belum memasuki masa panen.
Datang pada Pagi Hari Lebih Nyaman
Greenhouse memperoleh cahaya matahari untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Keadaan di dalamnya dapat terasa hangat ketika siang semakin terik.
Kunjungan pada pagi hari umumnya memberi suhu yang lebih nyaman. Pengunjung juga mempunyai waktu lebih panjang untuk memilih buah tanpa terburu buru.
Pakaian ringan, alas kaki yang tidak licin, air minum, serta tas belanja yang kuat dapat dibawa. Pengunjung sebaiknya tidak memakai pakaian yang mudah tersangkut pada tali tanaman.
Makanan dan minuman tidak perlu dibawa masuk ke area produksi apabila pengelola melarangnya. Sisa makanan dapat mengotori greenhouse dan mengundang serangga.
Jadwal Panen Wajib Dikonfirmasi Sebelum Berangkat
Open Farm Gemeksekti tidak dibuka setiap hari. Panen terbaru hanya berlangsung tiga hari dan seluruh buah habis terjual. Satu greenhouse berikutnya disebut akan memasuki masa panen pada awal Agustus 2026.
Calon pengunjung perlu menghubungi Pemerintah Desa Gemeksekti atau BUMDes Gemilang Sakti sebelum datang. Situs resmi desa mencantumkan kantor Pemerintah Desa Gemeksekti di Jalan Cincin Kota, Watubarut, serta menyediakan nomor telepon dan akun media sosial desa untuk memperoleh informasi terbaru. Alamat tersebut merupakan alamat pemerintah desa, bukan kepastian titik pintu masuk greenhouse.
Pertanyaan yang perlu dipastikan meliputi tanggal pembukaan, jam kunjungan, varietas yang siap, harga per kilogram, ketentuan rombongan, lokasi parkir, serta ketersediaan stok.
Pengunjung juga sebaiknya datang pada awal periode panen. Pengalaman sebelumnya menunjukkan seluruh hasil dapat terjual dalam waktu singkat setelah Open Farm diumumkan.
Wisata petik melon di Kebumen berjalan mengikuti kesiapan buah. Ketika greenhouse belum dibuka, tanaman masih berada dalam proses pembentukan dan pematangan. Kesabaran menunggu jadwal tersebut menjadi bagian dari pengalaman mengenal pertanian, karena buah terbaik dipanen berdasarkan keadaan tanaman, bukan hanya berdasarkan keinginan pembeli.


Comment