Hutan Kalimantan merupakan salah satu kawasan tropis terpenting yang dimiliki Indonesia. Bentang alamnya membentang dari dataran rendah yang panas dan lembap, rawa gambut, tepian sungai, kawasan karst, hingga pegunungan yang berbatasan dengan Malaysia. Keragaman tersebut membuat setiap wilayah memiliki jenis tumbuhan, satwa, dan sumber air yang berbeda.
Kawasan berhutan tidak hanya terlihat sebagai kumpulan pohon berukuran besar. Di bawah tajuknya terdapat kehidupan yang saling terhubung, mulai dari jamur, serangga, burung, primata, ikan, hingga mikroorganisme di dalam tanah. Sungai sungai besar juga memperoleh pasokan air dari daerah berhutan di bagian hulu.
Bagi masyarakat di pedalaman, hutan menjadi tempat memperoleh pangan, obat tradisional, rotan, madu, damar, ikan, dan bahan bangunan. Hutan juga menyimpan sejarah keluarga, wilayah adat, lokasi ritual, serta pengetahuan mengenai musim yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Bentang Hutan Kalimantan Tidak Memiliki Satu Wajah
Hutan Kalimantan sering digambarkan sebagai hamparan hijau yang seragam. Gambaran tersebut kurang tepat karena struktur hutan berubah mengikuti ketinggian, jenis tanah, curah hujan, kedekatan dengan sungai, serta kondisi geologi.
Pada dataran rendah, hutan dipterokarpa menjadi salah satu bentuk yang paling dikenal. Kawasan ini ditumbuhi pohon dari keluarga Dipterocarpaceae, termasuk meranti, keruing, kapur, dan tengkawang. Sebagian pohon dapat tumbuh sangat tinggi sehingga membentuk beberapa lapisan tajuk.
Di wilayah yang selalu atau berkala tergenang, terbentuk hutan rawa air tawar dan rawa gambut. Hutan riparian berkembang di sepanjang sungai, sedangkan daerah pesisir memiliki hutan mangrove dan vegetasi pantai. Semakin tinggi letak wilayah, susunan tumbuhan berubah menjadi hutan perbukitan dan pegunungan.
Lanskap Hulu Kapuas di Kalimantan Barat, misalnya, mempunyai hutan pegunungan, ekosistem air tawar, rawa gambut, hutan dipterokarpa dataran rendah, hutan riparian, serta danau. Keberagaman tipe kawasan ini memperlihatkan bahwa perlindungan hutan tidak dapat menggunakan satu cara untuk seluruh Kalimantan.
Pohon Tinggi Membentuk Ruang Hidup Bertingkat
Struktur hutan hujan tropis menyerupai bangunan bertingkat. Lapisan paling atas ditempati pohon yang menjulang melampaui tajuk utama. Di bawahnya terdapat kanopi rapat yang menerima sebagian besar sinar matahari.
Lapisan lebih rendah diisi pohon muda, perdu, rotan, paku, dan tumbuhan yang mampu hidup dalam cahaya terbatas. Lantai hutan terlihat lebih gelap karena hanya sedikit cahaya yang menembus dedaunan.
Setiap lapisan menyediakan ruang hidup bagi satwa tertentu. Burung pemakan buah dan sejumlah primata lebih banyak bergerak di atas pohon. Babi berjanggut, rusa, landak, serta mamalia kecil mencari makanan di permukaan tanah. Serangga dan jamur membantu menguraikan daun serta kayu yang telah mati.
Pohon berukuran besar juga menjadi tempat tumbuh anggrek, paku sarang burung, lumut, dan berbagai tumbuhan epifit. Akar, batang, cabang, serta lubang pohon menyediakan tempat berlindung bagi kelelawar, burung, reptil, dan hewan kecil lainnya.
Orangutan Menjadi Penghuni yang Paling Dikenal
Orangutan Kalimantan atau Pongo pygmaeus menjadi salah satu satwa yang paling sering dikaitkan dengan hutan di pulau ini. Primata tersebut menghabiskan banyak waktunya di atas pohon untuk mencari buah, daun muda, kulit kayu, serangga, dan sumber makanan lainnya.
Kemampuan orangutan bertahan sangat bergantung pada keberadaan tajuk yang saling terhubung. Ketika hutan terpecah oleh jalan, kebun, tambang, atau permukiman, satwa itu lebih sering turun ke tanah. Pergerakan di permukaan membuatnya rentan bertemu manusia atau masuk ke area produksi pangan.
Orangutan juga membantu menyebarkan biji melalui sisa makanan dan kotorannya. Peran tersebut membantu regenerasi tumbuhan di berbagai bagian hutan. Karena wilayah jelajahnya luas, perlindungan orangutan membutuhkan kawasan yang besar dan saling terhubung.
Kementerian Kehutanan menyebut kehilangan habitat akibat pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, serta kegiatan ilegal sebagai ancaman utama bagi orangutan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pertemuan yang merugikan antara satwa dan manusia.
“Menurut penulis, keberadaan orangutan di alam bebas menjadi salah satu ukuran penting kesehatan hutan. Satwa ini sulit bertahan apabila tajuk pohon terputus dan sumber buah terus berkurang.”
Bekantan Bergantung pada Hutan di Tepi Air
Selain orangutan, Kalimantan menjadi rumah bagi bekantan yang mudah dikenali melalui hidung panjang pada individu jantan. Primata ini banyak ditemukan di hutan mangrove, rawa, tepian sungai, serta kawasan lahan basah.
Bekantan hidup berkelompok dan memanfaatkan daun, buah, serta bagian tumbuhan lainnya sebagai makanan. Kedekatannya dengan sungai membuat satwa tersebut menghadapi tekanan ketika vegetasi tepian air dibuka.
Hutan di sepanjang sungai memiliki fungsi yang lebih luas daripada tempat tinggal satwa. Akar pohon menahan tanah agar tidak mudah terkikis, sementara tajuk membantu menjaga suhu air. Daun serta bahan organik yang jatuh menjadi bagian dari rantai makanan ikan dan organisme perairan.
Pembukaan tepian sungai dapat mempercepat erosi dan meningkatkan jumlah sedimen di dalam air. Keadaan itu dapat mengganggu tempat berkembang biak ikan serta mengurangi kualitas air yang digunakan masyarakat.
Rangkong dan Macan Dahan Mengisi Tajuk Hutan
Kalimantan juga memiliki rangkong yang memainkan peran penting dalam penyebaran biji. Burung berukuran besar ini dapat terbang cukup jauh setelah memakan buah, kemudian membawa biji menuju bagian hutan lainnya.
Sebagian jenis rangkong memerlukan pohon tua berlubang untuk bersarang. Betina akan berada di dalam lubang pohon selama masa bertelur dan membesarkan anak. Hilangnya pohon besar membuat pilihan lokasi sarang semakin sedikit.
Macan dahan Kalimantan hidup lebih tersembunyi. Satwa pemangsa tersebut mempunyai tubuh yang mampu bergerak di cabang pohon dan hutan rapat. Kehadirannya membantu menjaga keseimbangan jumlah hewan yang menjadi mangsanya.
Beruang madu, owa Kalimantan, lutung, kucing hutan, trenggiling, rusa, serta berbagai jenis kelelawar juga menempati kawasan ini. Taman Nasional Betung Kerihun tercatat menjadi habitat orangutan, kelampiau, beruang madu, dan beragam burung.
Danau Sentarum Menunjukkan Kekayaan Hutan Air Tawar
Hutan Kalimantan tidak dapat dipisahkan dari danau dan sungai. Salah satu kawasan yang memperlihatkan hubungan tersebut adalah Taman Nasional Danau Sentarum di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Kawasan seluas sekitar 127 ribu hektare itu memiliki danau musiman, rawa, sungai, serta hutan yang dipengaruhi perubahan tinggi air. Ketika musim hujan tiba, air meluas dan menggenangi sebagian kawasan. Saat musim lebih kering, permukaan air menurun dan memperlihatkan bagian daratan.
Perubahan tersebut membentuk tempat hidup bagi ikan, burung air, reptil, mamalia, serta tumbuhan yang telah menyesuaikan diri dengan siklus banjir. Danau Sentarum tercatat menjadi habitat ratusan jenis burung dan ikan, termasuk sekitar 311 spesies burung serta 266 spesies ikan berdasarkan data pengelola kawasan.
Masyarakat di sekitar danau menggantungkan penghidupan pada perikanan, madu hutan, dan hasil alam lainnya. Pengelolaan air di bagian hulu serta perlindungan vegetasi di sekitarnya menjadi kebutuhan penting agar siklus danau tetap berjalan.
Gambut Menyimpan Air dalam Jumlah Besar
Sebagian hutan Kalimantan tumbuh di atas gambut, yaitu lapisan bahan tumbuhan yang membusuk sangat lambat dalam keadaan jenuh air. Proses pembentukannya membutuhkan waktu sangat panjang.
Ketika masih basah, gambut dapat menyimpan air dan melepaskannya secara bertahap. Sifat tersebut membantu mengurangi perubahan aliran air yang terlalu tajam antara musim hujan dan musim kering.
Masalah muncul ketika gambut dikeringkan dengan kanal untuk perkebunan, pertanian, atau kegiatan lain. Permukaan tanah menjadi lebih kering, mudah mengalami penurunan, serta rentan terbakar. Api gambut dapat bergerak di bawah permukaan sehingga sulit dilihat dan dipadamkan.
Sebaran gambut Kalimantan banyak ditemukan di dataran rendah Kalimantan Tengah, wilayah pantai selatan, serta beberapa bagian Kalimantan Barat. Kawasan Danau Sentarum juga memiliki gambut pedalaman yang terbentuk dalam keadaan geografis khusus.
Kebakaran Menghasilkan Asap yang Sulit Dikendalikan
Kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan berulang di sejumlah wilayah Kalimantan. Risiko meningkat ketika musim kering berlangsung panjang, muka air gambut turun, dan terdapat aktivitas pembakaran di dekat kawasan mudah terbakar.
Api pada tanah mineral umumnya bergerak melalui rumput, semak, serasah, dan kayu kering di permukaan. Pada gambut, api dapat masuk ke lapisan tanah dan terus menyala meskipun bagian atas terlihat padam.
Asap mengurangi jarak pandang, mengganggu penerbangan, serta meningkatkan keluhan pernapasan. Sekolah dapat menghentikan kegiatan tatap muka ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat yang bekerja di luar ruangan menghadapi paparan lebih lama.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat turun dari sekitar 151.919 hektare pada 2019 menjadi 24.154 hektare pada 2024. Penurunan tersebut memperlihatkan kemajuan pengendalian, tetapi luas yang terbakar tetap memerlukan kewaspadaan dan pencegahan sejak awal musim kering.
Pembukaan Lahan Memecah Jalur Pergerakan Satwa
Perubahan hutan menjadi kebun, tambang, jalan, kawasan permukiman, atau fasilitas industri tidak hanya mengurangi luas tutupan pohon. Perubahan tersebut juga membagi hutan menjadi potongan kecil yang terpisah.
Satwa yang sebelumnya dapat bergerak mengikuti musim buah akan kesulitan menyeberangi area terbuka. Beberapa hewan akhirnya mencari makan di kebun masyarakat, lalu dianggap sebagai pengganggu.
Fragmentasi juga dapat memisahkan kelompok satwa yang sebelumnya saling bertemu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mempersempit pertukaran genetik dan meningkatkan kerentanan populasi kecil.
Koridor satwa diperlukan untuk menghubungkan kawasan yang masih memiliki tutupan hutan. Koridor tidak selalu harus berupa hutan primer yang sangat luas. Jalur vegetasi di tepi sungai, hutan produksi yang dikelola hati hati, serta kawasan bernilai konservasi tinggi dapat membantu pergerakan satwa.
Angka Deforestasi Menunjukkan Tekanan Belum Berakhir
Kehilangan tutupan hutan masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Pada tingkat nasional, Kementerian Kehutanan mencatat deforestasi neto 2024 sebesar sekitar 175.400 hektare. Angka tersebut berasal dari deforestasi bruto sekitar 216.200 hektare yang dikurangi reforestasi sekitar 40.800 hektare.
Sebagian besar deforestasi bruto nasional pada tahun tersebut terjadi pada hutan sekunder. Hutan sekunder tetap memiliki nilai penting karena menjadi habitat satwa, penyimpan air, pelindung tanah, dan penghubung antara kawasan yang lebih utuh.
Kalimantan termasuk wilayah yang terus menghadapi tekanan karena memiliki cadangan mineral, lahan yang diminati untuk perkebunan, serta kebutuhan pembangunan infrastruktur. Setiap izin pemanfaatan ruang perlu memperhitungkan kondisi sungai, habitat satwa, tutupan gambut, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Rehabilitasi lahan dapat membantu mengembalikan vegetasi, tetapi hutan yang baru ditanam tidak langsung memiliki kerumitan yang sama dengan hutan alam tua. Pohon besar, lubang sarang, lapisan tanah, jamur, dan hubungan antarsatwa membutuhkan waktu panjang untuk terbentuk.
Pertambangan Mengubah Tanah dan Aliran Air
Kalimantan memiliki kegiatan pertambangan batu bara, emas, bauksit, serta sejumlah mineral lainnya. Operasi tambang memerlukan pembukaan lahan, penggalian, jalan angkut, tempat penyimpanan material, dan fasilitas pengolahan.
Perubahan bentuk tanah dapat memengaruhi arah aliran air. Lumpur dari area terbuka berpotensi masuk ke sungai apabila sistem pengendalian sedimen tidak bekerja dengan baik.
Lubang bekas tambang juga membutuhkan penanganan serius. Reklamasi tidak cukup dilakukan dengan menanam beberapa jenis pohon. Struktur tanah, kestabilan lereng, kualitas air, dan pilihan vegetasi perlu dipulihkan secara terukur.
Pengawasan dibutuhkan sejak pembukaan sampai kegiatan berakhir. Jaminan reklamasi, pelaksanaan pemulihan, serta pemeriksaan kualitas air harus dijalankan agar beban tidak berpindah kepada pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
Perkebunan Memerlukan Batas Perlindungan yang Tegas
Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas penting dari Kalimantan. Industri ini menyediakan lapangan kerja, bahan baku, serta pendapatan bagi perusahaan, petani, dan pemerintah daerah.
Persoalan muncul ketika pembukaan kebun memasuki hutan alam, rawa gambut, wilayah adat, atau jalur pergerakan satwa. Pengelolaan yang tidak hati hati juga dapat memicu konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat.
Perkebunan yang sudah berjalan perlu menjaga kawasan di sepanjang sungai, mata air, lereng curam, serta bagian yang memiliki nilai konservasi tinggi. Perusahaan juga perlu mencegah perburuan oleh pekerja dan memastikan limbah tidak mencemari perairan.
Rantai pasok yang dapat dilacak menjadi semakin penting. Pembeli perlu mengetahui asal komoditas dan memastikan produksinya tidak berasal dari pembukaan hutan yang melanggar aturan.
Hutan Menjadi Ruang Hidup Masyarakat Dayak
Bagi banyak komunitas Dayak, hutan bukan sekadar sumber kayu. Kawasan tersebut berhubungan dengan ladang, kebun buah, tempat berburu, sungai, kuburan leluhur, tanaman obat, dan lokasi upacara adat.
Pengetahuan lokal membantu masyarakat mengenali musim buah, arah pergerakan satwa, jenis tanah, tanaman beracun, tumbuhan obat, serta wilayah yang tidak boleh dibuka. Aturan adat juga dapat mengatur waktu mengambil hasil hutan agar sumbernya tidak cepat habis.
Masyarakat Dayak Ga’ai di Kalimantan Utara, misalnya, memanfaatkan hutan dan sungai sebagai pusat penghidupan. Peralatan berburu, menangkap ikan, menganyam, dan membuat tempat berlindung dikembangkan dari pengetahuan yang diwariskan dalam komunitas.
“Menurut penulis, perlindungan hutan akan lebih kuat ketika masyarakat yang telah lama tinggal di sekitarnya diperlakukan sebagai pengelola, bukan hanya sebagai penerima aturan dari luar.”
Pengakuan Hutan Adat Mengurangi Ketidakpastian
Ketidakjelasan batas wilayah menjadi salah satu sumber perselisihan dalam pengelolaan hutan. Masyarakat dapat menganggap suatu kawasan sebagai wilayah adat, sedangkan peta pemerintah mencatatnya sebagai kawasan hutan negara atau area konsesi.
Pemetaan partisipatif membantu mencatat kebun, sungai, tempat keramat, lokasi berburu, ladang, serta batas antarkomunitas. Hasilnya dapat digunakan dalam pembahasan bersama pemerintah agar keputusan tidak dibuat hanya berdasarkan peta dari meja kantor.
Pengakuan hutan adat memberikan kepastian kepada komunitas untuk mengelola wilayahnya sesuai aturan yang berlaku. Namun, pengakuan perlu diikuti dukungan kelembagaan, penyelesaian batas, pengawasan, dan pengembangan usaha yang tidak merusak tutupan hutan.
Hasil hutan nonkayu seperti madu, rotan, damar, buah, tanaman obat, dan kerajinan dapat memberi penghasilan tanpa harus menebang seluruh kawasan. Nilai ekonomi akan meningkat apabila produk diolah dengan baik dan mempunyai akses pasar yang adil.
Taman Nasional Menjaga Kawasan Penting
Kalimantan memiliki sejumlah taman nasional dengan ciri yang berbeda. Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah melindungi kawasan rawa gambut yang sebelumnya menghadapi kegiatan pembalakan ilegal. Kawasan ini memiliki luas lebih dari 483 ribu hektare dan berada di antara sejumlah sungai besar.
Taman Nasional Kayan Mentarang di Kalimantan Utara menjadi salah satu kawasan konservasi terluas di Kalimantan. Arealnya membentang di Kabupaten Malinau dan Nunukan, termasuk wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Indonesia dan Malaysia. Luasnya mencapai sekitar 1,27 juta hektare.
Taman Nasional Betung Kerihun melindungi kawasan pegunungan dan hulu sungai di Kalimantan Barat. Bersama Danau Sentarum, wilayah tersebut membentuk jaringan perlindungan dari kawasan hulu hingga lahan basah.
Pengelolaan taman nasional tetap menghadapi persoalan akses, perburuan, kebakaran, pembalakan, dan keterbatasan petugas. Kerja sama dengan desa penyangga menjadi penting karena batas administratif tidak dapat menghentikan pergerakan satwa, api, dan air.
Jantung Borneo Menghubungkan Tiga Negara
Sebagian hutan pedalaman Kalimantan masuk dalam kawasan Heart of Borneo atau Jantung Borneo. Inisiatif ini melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk menjaga bentang hutan yang saling terhubung.
Wilayah Jantung Borneo mencakup sekitar 23 juta hektare di tiga negara. Kawasan tersebut penting sebagai daerah tangkapan air karena sebagian besar sungai utama Borneo memiliki hulu di dalam atau di sekitar bentang ini, termasuk Kapuas, Mahakam, dan Barito.
Kerja sama lintas negara diperlukan karena satwa, aliran sungai, kebakaran, dan perdagangan ilegal tidak selalu mengikuti batas negara. Penjagaan hanya pada satu sisi perbatasan tidak akan cukup ketika kawasan di sisi lain kehilangan tutupan hutan.
Pengelolaan juga perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat yang telah lama tinggal di daerah perbatasan. Jalan, layanan kesehatan, pendidikan, dan peluang usaha tetap dibutuhkan tanpa harus membuka seluruh hutan.
Pengawasan Menentukan Kondisi Hutan di Setiap Lanskap
Ketersediaan peta satelit membuat perubahan tutupan lahan dapat diketahui lebih cepat. Pemerintah, peneliti, organisasi lingkungan, perusahaan, dan masyarakat dapat membandingkan keadaan hutan dari waktu ke waktu.
Data tersebut tetap memerlukan pemeriksaan di lapangan. Hilangnya warna hijau pada citra dapat berasal dari penebangan, kebakaran, panen hutan tanaman, atau perubahan lainnya. Sebaliknya, kawasan yang terlihat hijau belum tentu memiliki kualitas ekologis yang baik apabila hanya berisi satu jenis tanaman.
Patroli perlu diarahkan pada lokasi yang memiliki risiko tinggi, seperti batas konsesi, jalur masuk hutan, kawasan gambut kering, tempat perburuan, dan wilayah yang mengalami peningkatan titik panas. Laporan masyarakat harus ditindaklanjuti secara terbuka agar pelanggaran tidak terus berulang.
Perusahaan yang memperoleh izin di sekitar hutan perlu menyampaikan data pengelolaan kawasan perlindungan, pemulihan lahan, pengendalian api, serta penyelesaian pengaduan. Pemerintah daerah juga memerlukan tenaga dan anggaran yang cukup untuk memeriksa kepatuhan di wilayah yang luas.
Keadaan hutan Kalimantan pada setiap kabupaten akan ditentukan oleh keputusan yang dibuat dari hari ke hari, mulai dari penerbitan izin, penjagaan sungai, penanganan api, pengakuan wilayah adat, penindakan perburuan, sampai pemulihan lahan yang telah terbuka.


Comment